Klenteng Sam Poo Kong, yang juga dikenal sebagai Klenteng Gedung Batu, merupakan klenteng Cina tertua yang terletak di Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah. Klenteng Sam Poo Kong, atau Kelenteng Gedung Batu, berada di Jalan Simongan No. 129, Bongsari, Semarang Barat, Jawa Tengah. Tempat ini adalah petilasan dari Laksamana Tiongkok, Zheng He, seorang Tiongkok muslim yang mendarat dan singgah di Semarang pada masa lalu. Dikenal sebagai klenteng Tionghoa tertua di Semarang, Kelenteng Gedung Batu memiliki bangunan seluas 1.020 meter persegi yang mencerminkan pengaruh arsitektur Cina dan Jawa pada abad ke-14. Disana terdapat Goa Batu yang merupakan bangunan inti dari klenteng ini. Dipercaya sebagai lokasi pertama kali Cheng Ho beserta anak buahnya mendarat ketika mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400-an. Di goa itu, ada Patung Cheng Ho berlapis emas. Ruangan itu dipakai sebagai ruang sembahyang untuk memohon doa restu kesehatan, keselamatan, dan rejeki. Dinding goa batu ini, dihiasi relief berseni tinggi tentang perjalanan Cheng Ho ke Jawa. Satu satu dari empat klenteng di Sam Poo Kong ini adalah klenteng Dewa Bumi. Klenteng ini biasanya digunakan untuk berdoa kepada Tian (Tuhan/langit) selain itu kepada Tei yang berarti dewa bumi. Hok Tek Ceng Sin dipecaya sebagai dewa rezeki dan berkah. Setiap tanggal 15 bulan 8 kalendar Tionghoa diadakan perayaan sebagai hari ucapan terima kasih untuk Hok Tek Ceng Sin. Umat akan memberikan kue rembulan sebagai bentuk ucapan syukur atas hasil panen yang berlimpah serta rezeki sepanjang tahun kemarin. Disana juga terdapat tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho, dia diabadikan sebab sangat berjasa atas perjalanan Laksamana Cheng Ho dan pembangunan klenteng ini. Klenteng ini adalah satu-satunya tempat di Klenteng Sam Poo Kong yang terdapat makam dan kalian bisa berdoa di luar ataupun di ruang dekat makam tersebut. Lokasi klenteng ini berada di sebelah klenteng Tho Te Kong. Jika kalian hendak berdoa di dekat makam, dengan cara Islam dan didampingi Rohmad. Karena makam ini adalah makan seorang muslim, orang-orang tak jarang melakukan ritual nyekar di makam ini. Selain itu ada tempat pemujaan lainnya, dinamai dengan kyai Jangkar. Kyai Jangkar ini bukanlah nama orang, akan tetapi sebuah jangkar. Karena di tempat inilah tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di tempat ini pula digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu dengan mendoakan arwah yang dipercayai tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka. Setelah itu ada tempat yang bernama pemujaan Kyai Cundrik Bumi. Konon, dulunya tempat ini adalah lokasi penyimpanan senjata. Senjata ini adalah segala jenis senajata yang digunakan awak kapal Laksamana Cheng Ho. Selanjutnya adalah tempat pemujaan Kyai dan Nyai Tumpeng. Tempat ini dulunya adalah tempat penyimpanan bahan makanan ketika Cheng Ho singgah di tempat ini. Saat kalian berencana berkunjung ke klenteng ini, sebaiknya kalian usahakan bertepatan dengan hari besar agama Budha, Kong Hu Cu, maupun Taoisme, seperti Tahun Baru Imlek. Sebab pada saat-saat itu, sering kali di klenteng ini ada parade kebudayaan berupa pertunjukan kesenian. Namun perlu diingat, Anda tetap harus melihat rambu-rambu tulisan dan aturan yang ada di klenteng ini. Sebab tujuan dari pembangunan klenteng ini adalah sebagai sarana beribadah oleh penganutnya.
Baca juga:Pagoda Avalokitesvara


Februari 01, 2024
Tuti Susilawati

0 Comments:
Posting Komentar